Puasa Ramadhan 1435 H (2014 M)

Assalamu'alaikum Wr. Wb, Mari kita menyambut puasa ramadhan 1435 H dengan hati yang gembira dan penuh semangat

Powered by Blogger.
Thursday, June 26, 2014

Bacaan Niat Puasa Bulan Ramadhan

  • Niat Puasa Ramadhan yang dibaca sekali dalam satu bulan ketika malam pertama tarawih :

Niat puasa yang dibaca sebulan sekali

Dibaca   : Nawaitu shauma sahri ramadhana Kullihi Lillahi ta’ala.
Artinya : Sengaja aku berpuasa sebulan pada bulan Ramadan tahun ini kerana Allah Taala
  • Niat Puasa Ramadhan yang dibaca setiap malam :

niat_harian_puasa


Dibaca   : Nawaitu shauma gadhin ‘an ada-i fardhi sayahri ramadhani hadzihis-sanati  lillahi ta’ala.
Artinya : Aku berniat puasa esok hari untuk melaksanakan kewajiban bulan ramadhan tahun ini kerana Allah Taala.

  • Do’a Berbuka Puasa Ramadhan :

doa buka puasa


Dibaca   : Allahuma laka shumtu wabika amantu wa ‘ala rizqika aftartu birahmatika ya arhama rohimin.
Artinya : Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka, Maha besar Allah yang maha pemurah lagi maha penyayang.
Unknown
Tuesday, June 24, 2014

Prediksi Awal Puasa Ramadhan dan Idul Fitri 1435 H / 2014 M

Awal Puasa Ramadhan 1435 H / 2014 M di Indonesia diperkirakan akan dimulai pada Hari Ahad, 29 Juni 2014 dan Hari Raya Idul Fitri 1435 H / 2014 M akan dilaksanakan pada Hari Senin, 28 Juli 2014. Dengan demikian puasa Ramadhan tahun ini dilaksanakan selama 29 hari.

Hal ini didasarkan pada hasil perhitungan sebagai berikut: *)

Awal Ramadhan 1435 H
  • Ijtimak akhir bulan Sya'ban : Jumat, 27 Juni 2014 jam 15.11 WIB
  • Tinggi Hilal malam Sabtu     : 0,50 derajat di atas ufuk
  • Tinggi Hilal malam Ahad      : 11,21 derajat di atas ufuk
  • Awal Ramadhan 1435 H     : Ahad, 29 Juni 2014
Awal Syawal 1435 H
  • Ijtimak akhir bulan Ramadhan : Ahad, 17 Juli 2014 jam 05.42 WIB
  • Tinggi Hilal malam Senin          : 3,55 derajat di atas ufuk
  • Awal Syawal 1435 H              : Senin, 28 Juli 2014

Perbedaan yang mungkin terjadi

Tahun 1435 H (2014 M) ini pun awal Ramadhan akan ada perbedaan terutama pada 2 ormas Islam terbesar di Indonesia yaitu NU dan Muhammadiyah. Hal ini karena dalam menentukan Awal Bulan Ramadhan dan Syawal, NU menggunakan metode Rukyatul Hilal Bil Fi'li, sedangkan Muhammadiyah menggunakan metode Wujudul Hilal.

Dari data hasil perhitungan di atas, pada malam Sabtu tinggi hilal 0,50 derajat artinya hilal sudah wujud di atas ufuk tetapi belum bisa dirukyat bil fi'li (belum bisa dilihat dengan mata di lapangan walaupun menggunakan alat tercanggih saat ini) karena masih di bawah 2 derajat. Hilal baru bisa dilihat pada malam Ahad nya karena tinggi hilal sudah 11,21 derajat. Dengan demikian, NU diperkirakan akan menetapkan Awal Ramadhan 1435 H pada Hari Ahad 29 Juni 2014, sedangkan Muhammadiyah sehari sebelumnya yaitu Hari Sabtu 28 Juni 2014.

Adapun Hari Raya Idul Fitri 1435 H diperkirakan akan sama yaitu Hari Senin 28 Juli 2014, karena tinggi hilal pada malam Senin nya 3,55 derajat telah melampaui persyaratan minimal 2 derajat.

Apabila ada khilafiyah (perbedaan pendapat), maka keputusan Ulil Amri dalam hal ini Sidang Itsbat Kementrian Agama RI yang harus kita patuhi, kecuali jika Anda tidak ingin kompak.

Walloohu a'lam bis-showaab.


*) Hasil Hisab Lajnah Falakiyah Yayasan Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo Kota Kediri Jawa Timur, dengan berdasarkan Imkanurrukyah untuk lokasi Jakarta (106.82'BT dan 6.18'LS) 

Untuk Melihat Jadwal Imsakiyah Silahkan Klik Banner Jadwal Imsakiyah disamping

Sunday, June 22, 2014

Syarat-syarat Puasa

Syarat Wajib Puasa

1. Islam
Disini berarti orang kafir tidak diwajibkan untuk berpuasa dan tidak pula diwajibkan mengqadha' (mengganti), sesuai dengan pendapat mayoritas ulama, bahkan meskipun mereka melakukannya tetap dianggap tidak sah. Hanya saja ulama mempunyai perbedaan pendapat mengenai ketentuan apakah syarat Islam ini syarat wajib atau syarat sahnya puasa? Dan yang menyebabkan mereka dalam hal ini adalah karena adanya perbedaan mereka dalam memahami ayat tentang kewajiban puasa, mengenai apakah orang kafir termasuk di dalamnya atau tidak. (baca Surat Al Baqarah ayat 183)

Menurut Ulama Hanafiyah: orang kafir tidak termasuk dalam ketentuan wajib puasa. Sementara mayoritas ulama memiliki pendapat bahwa mereka tetap termasuk dalam setiap firman Allah. Yang berarti mereka dibebani untuk mengerjakan semua syariatNya (dalam hal ini mereka diwajibkan untuk memeluk agama Islam kemudian melakukan ibadah puasa). Jadi menurut pendapat yang pertama (Hanafiyah) mereka hanya menanggung dosa atas kekafirannya sedangkan menurut pendapat yang kedua (Mayoritas Ulama) mereka menanggung dosa atas kekafiran dan meninggalkan syariat.

Maka kalau ada seorang yang kafir masuk kedalam agama Islam di bulan ramadhan dia wajib untuk melaksanakan ibadah puasa sejak saat itu. Sesuai dengan firman Allah "Katakanlah pada orang kafir bahwa jika mereka masuk islam akan diampuni dosanya yang telah lalu" (QS. Al Anfal:38).


2 & 3. Aqil dan Baligh (berakal dan melewati masa pubertas)
Bagi anak kecil (belum baligh) tidak diwajibkan untuk berpuasa , orang mabuk dan orang gila (tidak berakal), karena mereka tidak termasuk dalam golongan mukallaf, yaitu orang yang tidak masuk dalam konstitusi hukum, sebagaimana dalam hadist:
"Seseorang tidak termasuk mukallaf pada saat sebelum baligh, hilang ingatan dan dalan keadaan tidur".

4 & 5, Mampu dan Menetap
Puasa juga tidak diwajibkan bagi orang yang sakit (tidak mampu) dan sedang bepergian jauh (tidak menetap), tetapi mereka diwajibkan untuk mengqadha'-nya.

Syarat-syarat tersebut di atas mendapat tambahan satu syarat lagi dari Ulama Hanafiyah menjadi syarat yang ke-6 yaitu: Mengetahui kewajiban puasa (semisal bagi orang yang memeluk Islam di negara non muslim).

  

SYARAT SAHNYA PUASA

  1. Menurut ulama Hanafiyah ada 3:
    a. Niat
    b. Tidak ada yang menghalanginya (seperti haid dan nifas)
    c. Tidak ada yang membatalkannya
  2. Menurut ulama Malikiyah ada 4:
    a. Niat
    b. Suci dari haid dan nifas
    c. Islam
    d. Pada waktunya dan juga disyaratkan orang yang berpuasa berakal.
  3. Menurut ulama Syafi'iyah ada 4:
    a. Islam
    b. Berakal
    c. Suci dari haid dan nifas sepanjang hari
    d. Dilaksanakan pada waktunya.
    (Sedangkan "niat", menurut Syafi'iyah, dimasukkan ke rukun puasa).
  4. Menurut ulama Hambaliyah ada 3:
    a. Islam
    b. Niat
    c. Suci dari haid dan nifas

Sebagai catatan lebih lanjut bahwa:
  1. Definisi Niat
    Keyakinan hati dan kehendak untuk melakukan suatu perbuatan tanpa keragu-raguan.
    Apakah niat itu termasuk syarat atau rukun?
    Pada dasarnya ulama sepakat bahwa, niat wajib dilakukan dalam setiap ibadah, sebagaimana sabda Rasulullah saw.: "Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung pada niatnya". Dan dalam riwayat 'Aisyah, bahwasanya Rasul Saw. bersabda: "Barang siapa tidak berniat puasa pada malam hari maka puasanya dianggap tidak sah". Menurut mazhab selain Syafi'iyah: "Niat" adalah syarat, karena puasa dan ibadah lainnya merupakan perbuatan yang dilakukan oleh seorang hamba dengan ikhlas hanya karena Allah semata. Keikhalasn disini tidak bisa terwujud kecuali dengan niat. Adapun pelaksanaan "Niat" harus dilakukan di hati tidak cukup mengucapkan di mulut saja.
  2. Syarat bersuci jinabah (mandi junub)
    Ulama sepakat bahwa, orang yang hendak berpuasa tidak diwajibkan untuk bersuci jinabah pada malam hari, karena tidak menutup kemungkkinan hal-hal yang mewajibkan mandi junub (seperti bersenggama, mimpi basah, haidh dan nifas) terjadi pada pagi hari. Sebagaimana HR. Aisyah dan Ummu Salmah bahwa: Rasulullah saw. mandi junub (karena jima') pada pagi hari kemudian beliau berpuasa. Maka barang siapa mandi junub pada pagi hari atau seseorang wanita belum bersuci dari haid (atau nifas) dipagi harinya tetap boleh berpuasa dan dianggap sah. 


sumber : http://www.pesantrenvirtual.com/index.php
Unknown
Saturday, June 21, 2014

Pengertian Puasa dan Puasa Ramadhan

Kata puasa berasal dari bahasa Arab, yaitu “Shiyam atau shaum”, dimana kedua kata tersebut merupakan bentuk masdar, yang berarti menahan. Sedangkan menurut istilah fiqh berarti menahan diri sepanjang hari mulai dari terbitnya fajar sampai dengan terbenamnya matahari dengan disertai  niat tertentu, menahan diri dari segala sesuatu yang dapat menyebabkan batalnya puasa bagi orang islam yang mempunyai akal, sehat, serta suci dari haid dan nifas bagi seorang muslimah.

Puasa ramadhan wajib hukumnya bagi semua umat muslim yang memenuhi syarat untuk menunaikannya. Kewajiban berpuasa bagi umat Islam di bulan Ramadhan berdasarkan nash al-Qur’an yang sifatnya qot’i dalam kajian ilmu fiqh.

Hai orang-orang yang beriman diwajibkan bagimu ibadah puasa, sebagaimana diwajibkan bagi orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa...(QS. al-Baqarah, 2: 183)

Hai orang-orang yang beriman diwajibkan bagimu ibadah puasa, sebagaimana diwajibkan bagi orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa...(QS. al-Baqarah, 2: 183)

puasa ramadhan
Unknown

10 Hikmah Puasa Ramadhan

hikmah puasa ramadhan

Sebentar lagi kita akan menyambut puasa Ramadhan. Lalu, apa aja sih hikmah Puasa Ramadhan yang kita lakukan? Berikut 10 hikmah puasa Ramadhan untuk kita umat Muslim.

1. Puasa Ramadhan melatih kita untuk disiplin waktu. Dalam waktu 30 hari kita dilatih disiplin seperti tentara, saat bangun, makan, sholat, berbuka, sholat tarawih, iktikaf, baca qur'an kita lakukan sesuai waktunya. Itulah disiplin waktu yang kita dapat. Ya kita dilatih dengan benar-benar disiplin, kecuali orang yang enggan mengikuti latihan ini.

2. Bulan Ramadhan bulan yang menunjukkan pada manusia untuk hidup yang seimbang. Di bulan Ramadhan kita bersemangat untuk menambah amalan ibadah dan amalan sunat. Artinya kita menahan diri atas satu pekerjaan yang monoton dan lalai beribadah kepadaNya. Orang yang lalai dalam mengingat Allah, selalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga waktu untuk istirahat siang, sholat, dan makan sering terlupakan. Atau waktu yang semestinya dipakai untuk beribadah kepada Allah dipakai untuk makan siang bersama pacar. Sholat? tinggal. Di bulan Ramadhan kita diajarkan hidup seimbang, antara kerjaan dengan Ibadah. Pekerjaan untuk kepentingan dunia dan Ibadah untuk kepentingan Akhirat.

3. Bulan Ramadhan adalah bulan yang mengajarkan Manusia akan pentingnya arti persaudaraan dan silaturahmi. Di keluarga yang tidak mengerti akan arti persaudaraan. Persaudaraan di keluarga tidak begitu erat, kakak beradik bertengkar,  Ayah dan Ibu kadang saling tidak memperhatikan. Persaudaraan dari Gang Jalanan, juga banyak perkelahiannya. Persaudaraan atas satu kelompok, satu tanah air, satu bangsa, hanya selogan dan nama, begitu kurangnya mendapat makna. Didalam Islam ada persaudaraan sesama muslim, akan nampak begitu jelas jika berada dibulan Ramadhan, Orang memberikan tajil bukaan puasa gratis. Sholat berjamaah di masjid, memberi ilmu islam dan banyak ilmu Islam di setiap ceramah dan diskusi keagamaan yang dilaksanakan di Masjid. Semuanya didapat dengan gratis tanpa bayaran. Sesama muslim saling bersalam-salaman, bercengkrama saling menanyakan kabar. Sama-sama melaksanakan sholat tarawih tadarus dengan saling mengajarkan Al-Qur'an, dan banyak makanan sedekah di Masjid. Yang tentunya Gratis. Persaudaraan sesama muslim sebenarnya punya pelajaran dan bab khusus, ada ayat Al-Qur'an tentang persaudaraan, banyak hadits nabi, tetapi jarang diperhatikan orang betapa pentingnya arti persaudaraan. Tetapi dibulan Ramadhan ia akan tampak dengan sendirinya.

4. Bulan Ramadhan mengajarkan agar peduli pada saudara kita yang lemah. Di bulan Ramadhan kita puasa, merasaka lapar dan haus, mengingatkan kita betapa sedihnya nasib orang yang tidak punya, orang terlantar, anak yatim yang tiada orang tuanya, fakir miskin yang tinggal di tempat yang tidak layak. Apakah kita tidak merasa kasihan? Sehingga kita peduli untuk membantu saudara-saudara kita yang kelaparan. Baik karena kondisi ekonomi, atau dikarenakan bencana Alam. Allah menyinggung orang yang tidak peduli pada nasib orang lain yang miskin sebagai pendusta Agama. Allah juga mengatakan orang yang tidak peduli dengan nasib fakir miskin dan anak yatim sebagai orang yang tidak mempergunakan potensi pancaindranya untuk melihat keadaan sekelilingnya. Orang yang tidak memperdulikan orang lain juga disebut sebagai orang yang salah menilai atau memandang kehidupan.

5. Bulan Ramadhan mengajarkan akan adanya tujuan setiap perbuatan didalam kehidupan. Pada puasa ramadhan kita diharuskan sungguh-sungguh dalam beribadah, memantapkan niat yang juga berisi tujuan kenapa dilakukannya puasa. Tuajuan puasa yaitu untuk melatih diri kita agar dapat menghindari dosa-dosa di hari yang lain di luar bulan Ramadhan. Jika tujuan tercapai maka puasa berhasil. Akan tetapi jika tujuannya gagal maka puasa tidak berarti apa-apa. Jadi kita terbiasa dengan berorientasi kepada tujuan dalam melakukan segala macam amal ibadah.

6. Bulan Ramadhan mengajarkan pada kita hidup ini harus selalu mempunyai nilai ibadah. Setiap kaki melangkah menuju masjid ibadah, menolong orang lain ibadah, berbuat adil pada manusia ibadah, tersenyum pada sesama saudara ibadah, menyingkirkan duri di jalan ibadah, sampai tidurnya orang puasa pun termasuk ibadah, sehingga segala sesuatu yang baik dapat dinilai sebagai ibadah. Sehingga kita terbiasa hidup dalam ibadah.

 7. Bulan Ramadhan melatih diri kita untuk selalu berhati-hati dalam setiap amalan, terutama yang mengandung dosa. Disaat bulan Ramadhan kita puasa. Kita menahan Lapar dan haus. Bukan hanya itu saja. Tetapi juga menahan segala yang dapat membatalkan puasa, juga segala sesuatu yang bisa merusak puasa. Terutama hal-hal yang bisa menimbulkan dosa. Sehingga dibulan Ramadhan kita dapat terbiasa dan terlatih untuk menghindari dosa-dosa kita agar kita senantiasa bersih dari perbuatan yang dapat menimbulkan dosa. Latihan ini memunculkan kemajuan positif bagi kita jika diluar bulan Ramadhan kita juga dapat menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan dosa seperti bergunjing, berkata kotor, berdusta, memandang yang dapat menimbulkan dosa, dan lain-lainnya.

8. Bulan Ramadhan melatih kita untuk selalu tabah dalam berbagai halangan dan cobaan. Dalam Puasa di bulan Ramadhan kita dibiasakan menahan yang tidak baik dilakukan. Misalnya marah, berprasangka buruk, dan dianjurkan untuk Sabar atas segala perbuatan orang lain kepada kita. Misalnya ada orang yang menggunjingkan kita, atau mungkin memfitnah, tetapi kita tetap Sabar karena kita dalam keadaan Puasa. Dengan bersabar, hasutan Syeitan untuk memperuncing konflik menjadi gagal. Kitalah pemenang atas godaan Syeitan. Masalah orang menggunjing, memfitnah, biarlah itu menjadi dosa-dosanya, jangan sampai kita ikut berdosa dengan dosa orang lain.

9. Bulan Ramadhan mengajarkan kepada kita tentang arti hidup hemat dan sederhana. Tiap hari kita berbelanja kue dan minuman untuk berbuka puasa. Dari banyaknya kue dan minuman yang kita beli. Cuma minuman segelas teh buatan kita sendiri yang diminum. Yang lainnya banyak tertinggal, bahkan sebagian terbuang keesokan harinya. Hal ini mengingatkan kepada kita, bahwa apa yang kita beli sebelum berbuka, itu hanyalah hawa nafsu belaka. Kebutuhan kita hanya segelas teh manis! Untuk apa kita mesti membeli minuman dan kue banyak-banyak yang akhirnya tidak kita makan? Hal ini mengingatkan kita betapa kita harus menghemat, membeli untuk yang dibutuhkan saja. Kelebihan uang yang kita miliki mungkin bisa kita sedekahkan bagi yang lebih membutuhkannya.

10. Bulan Ramadhan mengajarkan pada kita betapa pentingnya rasa syukur atas limpahan nikmat yang diberikan Allah pada kita. Rasa syukur kita akan adanya nikmat makanan yang kita miliki terasa ketika kita berpuasa. Kita merasakan lapar, tapi kita masih memiliki makanan. Bagaimana dengan orang yang selalu merasakan lapar tetapi bukan karena ia puasa, akan tetapi karena memang tidak mempunyai makanan? Kita sakit, kita bisa makan obat ketika berbuka, tetapi bagaimana dengan saudara-saudara kita yang tidak punya obat ketika ia sakit? Kita enak, saat kita puasa merasa lapar dan haus, kita alihkan dengan menonton televisi atau sesuatu yang lain seperti internet. Lalu bagaimana dengan orang yang ketika ia lapar dan haus mereka alihkan lapar dan hausnya dengan bekerja memenuhi tuntutan majikannya? Bukan karena memang tidak mempunyai televisi atau internet, tetapi lebih karena tuntutan hidup, yang mewajibkan ia bekerja agar dapat makan hari ini dan hari ketika ia tidak bekerja. Bukankah seharusnya kita bersyukur atas nikmat yang telah diberikan pada kita?
Tuesday, January 29, 2013

Apakah IKHLAS menjadi busana kita?

Ikhlas berasal dari Bahasa Arab yang artinya bersih, murni. Kalau dikatakan ibadah kita harus ikhlas, artinya ibadah kita harus murni hanya kepada Alloh, bersih dari unsur-unsur tujuan kepada selain Alloh. Secara mudahnya, ikhlas adalah penerapan dari ucapan:


Lillaahartinya :

untuk Alloh

karena Alloh

untuk (beribadah kepada) Alloh

karena (mengikuti perintah) Alloh


Setiap ibadah yang diniatkan Lillaah, maka ibadah itu ikhlas. Jika niatnya tidak Lillaah, maka apapun bentuk ibadahnya menjadi tidak ikhlas.


Contoh: kita berdzikir membaca asma’ul husna 1000x, kalau niatnya untuk beribadah kepada Alloh (Lillaah) maka dzikirnya ikhlas, tapi kalau niatnya karena ingin naik jabatan atau ingin dapat jodoh atau ingin laku properti atau yang lainnya (keinginan = nafsu) maka dzikirnya tidak ikhlas tidak murni kepada Alloh, dzikirnya tidak untuk Alloh tapi untuk keinginannya/nafsunya.


Kita puasa, periksa niatnya, kalau niatnya karena mengikuti perintah Alloh (Lillaah) maka puasa kita ikhlas. Tapi kalau niatnya karena ingin diet, menurunkan berat badan, maka puasa kita tidak ikhlas. Kalau sudah tahu tidak ikhlas, segera ganti dengan ikhlas.


Kita sedekah, periksa niatnya, apakah niatnya karena Alloh atau karena ingin dapat balasan 10x lipat dari Alloh (sesuai janji Alloh), kalau niatnya karena ingin balasan 10x lipat maka sedekahnya tidak ikhlas, karena bukan karena Alloh tapi karena balasan dari Alloh.


Kita punya keinginan, ingin membangun masjid sendirian, periksa keinginan kita apakah keinginan kita itu untuk beribadah kepada Alloh atau ingin pamer kekayaan dengan membangun masjid sendirian. Kalau niatnya benar karena Alloh semata (Lillah) maka keinginannya itu ikhlas.


Kita shalat tahajud, periksa niatnya, apakah sesuai dengan yang kita ucapkan “Lillaahi ta’aalaa” (untuk beribadah kepada Alloh) ataukah palsu karena ingin menang tender? Kalau kita shalat karena ingin menang tender (tidak Lillah), maka shalat kita tidak ikhlas.


Lalu, apakah kita tidak boleh punya keinginan?


Tentu saja boleh, bahkan Alloh dan Rosul-Nya menganjurkan kita untuk memiliki keinginan yang baik-baik. Ingin menjadi orang kaya, ingin punya suami yang ganteng / istri yang cantik, ingin punya anak dan keturuan yang sholeh, ingin sehat, ingin mati dalam keadaan khusnul khotimah, ingin masuk sorga, dan sebagainya.


Tapi, jangan sampai keinginan-keinginan itu menjadi tujuan (akhir) dalam beramal, jangan sampai menghalangi ibadah kita untuk sampai kepada Alloh. Ibadah kita jangan mentog (berakhir) pada keinginan sehingga tidak sampai kepada Alloh. Justru kalau kita punya keinginan, keinginan-keinginan itu harus diniatkan Lillaah. Ingin jadi orang kaya Lillaah, Ingin punya suami yang ganteng/istri yang cantik Lillaah. Ingin masuk sorga Lillaah (karena perintah Alloh). Dan seterusnya.


Jadi Lillaahini harus menjadi tujuan akhir dari seluruh amal kita. Ucapan, perbuatan, tujuan, rencana, cita-cita, keinginan, dan harapan, baik lahir maupun bathin, tujuan akhirnya harus Lillaah.


Bukankah kita sudah berikrar dalam do’a iftitah : “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Alloh (Lillaah) Tuhan semua alam.” Lillaah itu bukan untuk diucapkan dan dimengerti saja, tapi Lillaah ini untuk diterapkandan dipraktekkan dalam hati dan perbuatan kita.


Jadi agar amal kita ikhlas, maka terapkanlah Lillaah.



Monday, January 28, 2013

Aktivitas Kita Selama 24 Jam Bisa Bernilai Ibadah

Manusia diciptakan oleh Sang Maha Pencipta Alloh SWT tujuannya hanya untuk ibadah, sebagaimana firman Alloh :

"Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepada-Ku".
(QS. Adz-Dzaariyaat 51 : 56)

Ternyata kita diciptakan oleh Alloh itu hanya untuk beribadah kepada-Nya. Sementara pemahaman kebanyakan kita selama ini yang namanya ibadah itu hanya yang wajib dan sunat saja, seperti sholat, puasa, zakat, sedekah, ibadah haji, baca Qur'an, baca shalawat, dan sebagainya. Pekerjaan itu hanya beberapa jam saja dalam sehari, jadi kalau ibadah hanya pada perbuatan yang wajib dan sunat saja berarti kebanyakan hidup kita tidak bernilai ibadah.

Lalu bagaimana caranya agar semua aktivitas kita selama 24 jam bisa bernilai ibadah?

Nabi Muhammad SAW telah bersabda : "Setiap perbuatan itu mengandung niat, dan setiap perbuatan manusia dinilai bagaimana niatnya. Jika seseorang hijrah (dari Mekah ke Madinah) karena mengikuti perintah Alloh dan rasul-Nya maka ia telah hijrah kepada Alloh dan rasul-Nya (bernilai ibadah). Dan jika seseorang hijrah karena urusan dunia (misalnya untuk dagang) atau untuk menemui perempuan yang akan dinikahinya maka hijrahnya kepada yang ditujunya itu (tidak bernilai ibadah)."

Jadi agar suatu perbuatan bernilai ibadah, syaratnya adalah sebagai berikut:

  1. Perbuatan tersebut adalah perbuatan yang baik, tidak melanggar aturan Alloh dan rasul-Nya, tidak melanggar hukum yang berlaku, dan tidak menyakiti / merugikan orang lain.
  2. Perbuatan tersebut harus mengandung niat "Untuk Beribadah Kepada Alloh".

Jika suatu perbuatan memiliki kriteria tersebut, maka perbuatan itu bernilai ibadah.

Jangankan perbuatan yang wajib seperti sholat, zakat, puasa, dan haji, atau yang sunat seperti baca Qur'an, shalawat, sedekah, i'tikaf di masjid, dan sebagainya, bahkan perbuatan yang mubah sekalipun seperti makan, minum, tidur, ngobrol, bekerja, istirahat, dan sebagainya jika diniati ibadah kepada Alloh bisa bernilai ibadah.

Akan tetapi sebaliknya, jangankan perbuatan yang mubah, perbuatan yang sunat dan wajib sekalipun jika niatnya bukan untuk beribadah kepada Alloh, maka perbuatan tersebut tidak bernilai ibadah.

Mari kita koreksi aktivitas sehari-hari kita, apakah makan kita hanya untuk menghilangkan rasa lapar, apakah minum kita hanya untuk menghilangkan rasa haus, apakah dzikir yang kita baca hanya agar dapat rizki banyak, apakah sholat kita hanya agar bisa masuk sorga atau terhindar dari neraka, tidak ada niat beribadah kepada Alloh? Jika ini yang kita lakukan maka sia-sia lah aktivitas tersebut.

Tapi dengan diniati ibadah kepada Alloh, seluruh aktivitas kita selama 24 jam sehari-semalam bisa bernilai ibadah. Sesuai dengan tujuan penciptaan kita yaitu untuk beribadah kepada Alloh.

jika perbuatan baik yang kita lakukan diniati ibadah kepada Alloh (Lillaah), maka perbuatan tersebut akan bernilai ibadah yang ikhlas.

Sekali lagi, yang saya uraikan ini bukan untuk diketahui saja, bukan hanya untuk dijadikan pengetahuan semata, tapi untuk diterapkan dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai busana seorang muslim.

Wallohu A'lam bish-showab....